Site Rizky

Cerita Pendek

Memancing dengan Umpan Pisang

Siang hari ketika matahari sudah tepat berada di atas kepala kira-kira pukul 12:00. Bel sekolah pun berbunyi, siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 SD bersorak gembira dan semuanya keluar dari kelasnya masing-masing. Ade, Pipit, Ano dan Yoyo adalah siswa kelas 4 SD . Mereka bersahabat sejak kelas 1 SD nama sekolah mereka yaitu SDN Gebang Raya II Tangerang. Selain karena mereka satu kelas, rumah mereka pun jaraknya tidak berjauhan masih satu komplek perumahan yang sama.
Biasanya empat sahabat itu selalu pulang dan berangkat sekolah melewati jalan yang sama, tetapi pada hari ini ada yang berbeda mereka pulang sekolah melewati jalan sepi yang belum di aspal. Jalan itu masih tanah merah dan masih banyak rumput-rumput liar bahkan pepohonan yang rindang.
“Kita lewat sini aja yu, sekali-kali kita lewat jalan yang berbeda dong. Aku bosen tahu lewat jalan itu melulu…” ajak Yoyo kepada sahabatnya yang penasaran untuk melewati jalan yang masih tanah merah dan becek itu.
“Iya juga sih, boleh siapa takut”. Jawab teman-teman.
“Ih…jalannya  becek tahu, aku males ah”. Jawab Pipit yang menolak untuk melewati jalan itu. Karena memang Pipit anak yang sangat di manja oleh orang tuanya, Pipit adalah anak semata wayang yang memiliki sifat manja jika dibandingkan dengan sahabat-sahabatnya yang lain.
“Hayolah Pit, sepatu kita tinggal di lepas saja biar tidak licin dan kotor”. Ade merayu Pipit, agar Pipit ikut pulang bareng bersama-sama.
“Ya sudah aku ikut, tapi kita pegangan ya supaya tidak jatuh”.
“Iya…” jawab teman-teman sambil membuka sepatu mereka, sepatu itu di jinjing masing-masing. Perjalanan pulang sekolah itu sangat menyenangkan. Mereka seperti Bolang yang menjelajahi jalan yang asing.
Di tengah-tengah perjalanan, Ade melihat tempat yang sangat sejuk. Di tempat itu terdapat kali kecil dan pepohonan yang besar.
“Hai…lihat deh, tempat itu bagus ya..” Ade menunjukkan tempat itu kepada sahabat-sahabatnya.
“Iya de..kayaknya tempat itu asyik deh, benarkan Pit, No?”.  jawab Yoyo yang melihat apa yang telah di tunjukkan oleh Ade, dan ingin menyakinkan kepada temannya bahwa tempat itu memang indah.
“Hmh…sip lah. Jawab Pipit dan Ano”. sambil mengacungkan jempolnya, yang menandakan bahwa tempat itu memang bagus.
“Eh..sini deh, gimana kalau nanti sore kita pergi ke tempat itu, sambil bawa makanan. Kayaknya enak deh, setuju?” Bisik Ade kepada sahabat-sahabatnya.
“Boleh…boleh”. Jawab Ano, Pipit dan Yoyo sambil menganggukkan kepala mereka.
“Ya sudah nanti kita kumpul di lapangan pukul tiga sore ya…”
Oke….

Akhirnya empat sahabat itu berpisah di gang menuju rumah mereka masing-masing, dan mereka akan bertemu kembali pukul tiga sore untuk bermain berama.
****
Sore itu  pukul tiga  Ano, Yoyo, dan Pipit sudah berkumpul di lapangan, hanya Ade saja yang belum datang. Lagi-lagi Yoyo melihat jam tangannya.
“Sudah pukul tiga lewat nih…ko Ade belum juga  datang ya”. Tanya Yoyo kepada Ano dan Pipit.
“Tunggu saja, sebentar lagi juga Ade datang ko”. Jawab Pipit dengan menyakinkan kepada Yoyo.
“Tuh dia datang, kamu lama banget  sih de…,” tanya Yoyo yang sudah tidak sabar menunggu  Ade di lapangan.
“Maaf, aku telat karena di rumah aku tidak ada siapa-siapa mamah sama papah aku kan kerja dan kakak aku belum pulang sekolah”.

“Terus kamu bawa bekal apa saja ?” Pipit bertanya pada Ade, sambil mengangkat-angkat  tas gendong Ade.
“Mau tahu? Aku bawa semua yang ada di kulkas”.
“Hah…pantesan tas kamu besar sekali, ya sudah kita berangkat sekarang  yu..” jawab Pipit sambil mengajak teman-temannya untuk berjalan menuju tempat itu.
            Ade, Ano, Yoyo dan Pipit berjalan dengan riang gembira menuju tempat yang baru mereka temukan tadi sepulang sekolah. Empat sahabat itu berjalan dengan semangat, dan mereka tidak sabar ingin segera sampai saja di tempat itu. Mereka ingin cepat-cepat merasakan sejuk dan dinginnya air di kali yang ditutupi dengan banyaknya pepohonan yang rindang, lingkungan yang masih asri dan belum tergusur oleh pembangunan perumahan.

****
Sesampainya disana mereka langsung menaruh tas di pinggir-pinggir pohon yang besar. Mereka sangat puas sekali datang ketempat itu, tempat bermain yang baru bagi mereka.
“Hmm…aku lapar nih, kita makan dulu yu..” ajak Pipit pada teman-temannya untuk makan dulu sebelum bermain, karena Pipit memang belum makan siang dari tadi sepulang sekolah.
“ya sudah kita makan dulu,”
Empat sahabat itu membuka makannya masing-masing. Ano membawa bekal nasi dan ayam goreng, Yoyo membawa telor rebus kecap dan tempe goreng, Pipit yang paling repot dan lengkap bawa bekal makannya yaitu ayam, tempe, tahu goreng dan roti bakar, sedangkan Ade hanya membawa mie goreng buatannya sendiri. Tetapi mereka makan-makannya bersama-sama agar tidak ada perbedaan diantara mereka.
Ade mengajak teman-temannya untuk membaca doa terlebih dahulu sebelum makan. “Hmm…kita baca doa dulu ya..”.
“Oke!”
Mereka membaca doa bersama-sama sebelum makan.
Bissmillahirrahmannirrahim…Allahumma Baariklana Fiima Rajaktana Wakiina  Azza Bannar… Amin…”
Ayo.. kita makan….
Setelah membaca doa, mereka makan-makanan yang mereka bekal dengan cara menyatukan semua makanan itu dan menghabiskannya bersama-sama agar tercipta suasana kebersamaan. Sungguh indahnya persahabatan dan saling berbagi.

“Alhamdulilah…kenyang deh, oya aku bawa pisang loh…” ade mengambilnya didalam tas “nih pisangnya, makan dong”.

“Aku juga bawa ciki sama coklat nih”. Pipit yang tidak mau kalah untuk mengeluarkan makanannya yang dibawa.
“Yoyo!” lagi apa kamu di situ” tanya Ano yang ingin tahu apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu.
“makannya sini…lihat deh, kali ini banyak ikannya”. Yoyo memberitahukan apa yang di lihatnya kepada sahabat-sahabatnya.
Ano, Ade dan Pipit mendekati Yoyo, ingin memastikan bahwa memang benar apa yang dikatakan Yoyo tadi, bahwa kali itu banyak ikannya. Takutnya Yoyo berbohong, karena memang Yoyo anaknya sedikit bandel dan jail sehingga sulit untuk dipercaya, tetapi walaupun Yoyo memiliki sifat seperti itu ia sangat baik terhadap sahabat-sahabatnya itu.
“Wah…banyak benar ikannya, kita pancing yu…” Ade mengajak teman-temannya untuk memancing ikan di kali itu. Kali itu adalah kali yang terbilang kecil dan hanya buatan manusia untuk batas pembeda antara kompleks perumahan yang satu dengan kompleks perumahan yang lain. Sehingga mereka berani untuk bermain di pinnggir kali itu.
“ya… tapi kita enggak ada pancingannya, gimana dong?” tanya Pipit kepada teman-temannya.
“Bagaimana kalau kita bikin pakai tali saja” Ano memang anak yang cerdas, Ano selalu mempunyai ide-ide bagus ya…tidak salah kalau Ano selalu mendapatkan peringkat pertama dikelas.
“Oke..oke”
“No..nih talinya, terus mana umpannya?” tanya Pipit pada Ano setelah mengambil tali di tasnya.
“Apa ya..?” Ano bingung karena memang tidak ada persiapan sama sekali untuk memancing.
“No..bagaimana kalau pakai pisang saja?” jawab Ade yang sedang memakan pisang yang di bawanya dari rumah.
“Wah…boleh juga tuh ide  kamu De!” Yoyo langsung mengambil pisang yang di simpan di samping pohon besar tempat mereka tadi makan-makan.
Semuanya membuat pancingan dari tali dan pisang sebagai umpannya, mereka langsung memancing ikan. Tetapi sudah satu jam mereka memancing belum ada  satu pun dari mereka yang berhasil  untuk mendapatkan ikan itu.
“Ya…ko enggak ada ikan yang ketangkap  ya, padahal kita udah lama nih sebel ah…” Pipit sudah merasa bosan karena belum satu ikan pun yang berhasil di pancing.

“iya nih, lagi kita salah sih malah pakai umpan pisang..” jawab Yoyo yang sudah tidak sabar.
“Eh..bagaimana kita nyebur aja?” Ade memang anak yang sedikit tomboy dan memiliki sifat yang tidak sabaran.
“Oke….oke…ha..ha..ha..”
            Empat sahabat itu turun ke kali, mereka berebut mengambil ikan-ikan yang sedari tadi mereka inginkan.
            “Tuh kan dapet deh ikannya, eh.. simpan di mana nih ikannya?” tanya Pipit dengan begitu senangnya setelah berhasil mendapakan ikan hasil tangkapnnya itu.
            “Pit, simpan di pelastik saja dulu” jawab Ade yang sedang asyik mengambil ikan-ikan di kali.
            Akhirnya banyak juga ikan yang tersimpan di pelastik itu, karena mereka sudah merasa cukup, akhirnya mereka berhenti untuk menangkap ikan.
     

       “Tanggung nih…udah basah kuyup, bagaimana kalau kita renang saja?” ajak Yoyo kepada sahabat-sahabatnya karena belum merasa puas berendam di dalam air, setelah menangkap ikan-ikan itu.
            “Boleh …Hore…”
            Akhirnya mereka mengadakan lomba renang, Ano balapan renang dengan Yoyo dan Ade balapan renang dengan Pipit, mereka sangat senang sekali bermaian seharian di tempat yang baru mereka kenal. Sampai tidak terasa hari sudah magrib, orang tua mereka menghawatirkan karena sampai magrib mereka belum juga pulang.
            Kakak Reno adalah kakanya Ade mereka dua bersaudara, Reno bertanggung jawab menjaga Ade adiknya karena kedua orang tuanya bekerja. Sore itu Reno mencari-cari di mana Ade, Ano, Pipit dan Yoyo itu bermaian, dengan perasaan kesal karena sudah sore begini mereka belum juga pulang. Akhirnya kak Reno menemukan mereka sedang asyik berenang.
            “Ade, pulang udah sore pukul berapa nih? Kamu tuh main jauh-jauh banget sih, di cari-cari tahunya ada di sini”.
            Ade dan teman-temannya akhirnya naik dan mereka merasa takut di marahi oleh orang tua masing-masing karena mereka bermain tidak tahu waktu, terlebih lagi baju mereka yang basah kuyup.
            “Kamu tuh, apa-apaan sih sampai basah kuyup kayak begini, mamah marah loh…” kak Reno terus memarahi adiknya, karena kesal dan capek mencari-cari adiknya main sampai tidak tahu waktu dan jarak yang jauh dari rumah.
            “Kak. Memangnya mamah sudah pulang?” tanya Ade sambil membereskan kembali semua barang bawaannya ke dalam tas.
            “Sudah dari tadi…ayo cepetan”. Kak Reno mengajak Ade dan teman-temannya untuk pulang bersama-sama. Mereka di antarkan sampai gang rumah masing-masing.
****
“Assalammualaikum..mah,mah,mah,mamah lihat deh aku bawa ikan nih….” Ade menunjukkan ikan hasil tangkapan yang di masukkan ke dalam pelastik kepada mamahnya.
            “Ya, ampun apa-apaan sih kamu ini de? Basah semua..pukul segini kamu baru pulang, itu juga disusul sama kakak kamu coba kalau tidak di susul kamu tidak pulang-pulang ya…kamu tuh kalau main inget waktu. Biar orang tua tuh tidak khawatir nunggu kamu, takutnya kamu kenapa-napa. Pokoknya mamah tidak senang kalau kamu bandel kayak begini”.  Mamah marah dan kesal melihat anaknya pulang dengan kondisi basah kuyup dan kotor.
            “Iya, maaf mah…aku berjanji tidak akan bendel lagi, dan kalau main aku tidak akan pulang ke sorean lagi. Ade menyesali semua kelakuannya, karena telah membuat mamahnya khawatir.
            “Ya sudah mamah maaf kan, udah jangan menangis mamah hanya tidak suka saja kalau memiliki anak yang bandel dan susah di atur, sekarang kamu mandi dulu”.
“Oke…”